Kamis, 23 Juni 2016

LANDASAN BERFIKIR FILSAFAT


Filsafat adalah  ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat adalah 1) Keheranan, 2) Kesangsian,        3) Kesadaran akan keterbatasan karena merasa dirinya sangat kecil, sering menderita, dan sering mengalami kegagalan. Hal ini mendorong pemikiran bahwa di luar manusia yang terbatas, pasti ada sesuatu yang tidak terbatas. Dalam kehidupan, adakalanya kita dapat menggolongkan manusia kedalam beberapa jenis berdasarkan pengetahuannya, yaitu:
  • Orang yang mengetahui tentang apa yang diketahuinya;
  • Orang yang mengetahui tentang apa yang tidak diketahuinya;
  • Orang yang tidak mengetahui tentang apa yang diketahuinya;
  • Orang yang tidak mengetahui tentang apa yang tidak diketahuinya.
Orang dapat memperoleh pengetahuan yang benar apabila orang tersebut termasuk golongan 1) dan sekaligus 2) yaitu Orang yang mengetahui tentang apa yang diketahuinya sekaligus Orang yang mengetahui apa yang tidak diketahuinya. Dengan demikian maka filsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita ketahui dan apa yang belum kita ketahui. Pengetahuan diperoleh dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dari kedua-duanya.

Tidak semua orang mampu berfilsafat, orang yang akan mampu berfilsafat apabila memiliki sifat rendah hati, karena memahami bahwa tidak semuanya akan dapat diketahui dan merasa dirinya kecil dibandingkan dengan kebesaran alam semesta. Filsuf Faust mengatakan : ”Nah disinilah aku, si bodoh yang malang, tak lebih pandai dari sebelumnya”. Socrates menyadari kebodohannya dan berkata “yang saya ketahui adalah bahwa saya tak tahu apa-apa”. Sifat selanjutnya adalah bersedia untuk mengoreksi diri dan berani berterus terang terhadap seberapa jauh kebenaran yang sudah dijangkaunya. Ilmu merupakan pengetahuan yang kita alami sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri sendiri mengenai:
  1. Apakah yang sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu?;
  2. Apakah ciri-ciri yang hakiki tentang ilmu dibanding dengan yang bukan ilmu?;
  3. Bagaimanakah saya tahu bahwa ilmu yang saya ketahui memang benar?;
  4. Kriteria apa untuk menentukan kebenaran?;
  5. Mengapa kita harus mempelajari ilmu?;
  6. Apakah kegunaan ilmu itu?.
Befilsafat adalah merenung, orang berfilsafat diibaratkan seperti seseorang di malam hari yang cerah memandang ke langit melihat bintang-bintang yang bertaburan dan merenungkan hakekat dirinya dalam lingkungan alam semesta. Hamlet berkata “Ah Horaito, masih banyak lagi di langit dan di bumi, selain yang terjaring dalam filsafatmu”. Inilah karakteristik berpikir filsafat yang pertama yaitu “menyeluruh”.
Seorang yang picik akan merasa sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi dan memandang oang lain lebih rendah, atau meremehkan pengetahuan orang lain, bahkan meremehkan moral, agama, dan estetika.

Orang yang berfilsafat seolah-olah memandang langit sembari merenungkan bahwa betapa kecil dirinya dibandingkan seisi alam semesta, bahwa betapa diatas langit masih ada langit, dan akhirnya dia menyadari kekerdilan dan kebodohannya. Seperti Socrates yang berkata ”Ternyata saya tak tahu apa-apa”. Selanjutnya Socrates berpikir filsafati yakni dia tidak percaya bahwa ilmu yang sudah dimilikinya itu benar dan bertanya-tanya mengenai apakah kriteria untuk menyatakan kebenaran?, apakah kriteria yang digunakan tersebut sudah benar?, dan apakah hakekat kebenaran itu sendiri?. Socrates berpikir tentang ilmu secara mendalam dan ini merupakan karakteristik berpikir filsafat yang kedua yaitu “mendasar”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar-putar dan melingkar yang seharusnya mempunyai titik awal dan titik akhir. Namun bagaimana menentukan titik awal. Akhirnya untuk menentukan titik awal, kita hanya bisa berspekulasi. Inilah karakteristik berpikir filsafat yang ketiga yaitu “spekulatif”.
Akhirnya kita menyadari bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dari spekulasi. Dari serangkaian spekulasi kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Dengan demikian lengkaplah 3 karakter berpikir filsafat yaitu meneyeluruh, mendasar dan spekulatif.

Rabu, 22 Juni 2016

CABANG-CABANG FILSAFAT



Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia. Philos berarti teman atau cinta, dan shopia berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah.
Dengan demikian filsafat berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana.                       filsafat merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan.

CABANG-CABANG FILSAFAT :
  1. Filsafat ilmu
         Filsafat Ilmu merupakan bagian dari Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengtahuan ilmiah) dan penyelidikan tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut.
     
  2.  Filsafat pemerintahan (Politik)
Filasafat pemerintahan adalah mencari makna dan hakikat terdalam dari pemerintahan. Ontology dalam filsafat ilmu berkaitan erat dengan objek material dan objek formal. Objek material pada dasarnya hampir sama dalam semua bidang kajian ilmu social maupun politik.
  
  3.     Filsafat hukum
Filsafat hukum adalah mencari hakikat dari hukum dan petunjuk-petunjuk mengenai nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat dan sekaligus menujukan kearah mana nilai tersebut akan berkembang
  
  4.     Filsafat sejarah
Filsafat sejarah adalah cabang dari filsafat yang mempelajari tentang prinsip-prinsip mendasar (hakekat) sejarah sejauh dapat ditangkap oleh akal dan dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, artinya bersifat rasional-ilmiah. Filsafat sejarah mempelajari prinsip-prinsip dasar keilmuan sejarah. Filsafat sejarah membicarakan “ada” sebagai sejarah. Pertanyaan yang dapat dikemukakan dalam filsafat sejarah adalah struktur mendasar atau esensi dasar apa yang menyebabkan sejarah (masa lampau) itu menjadi ada atau hal-hal mendasar apa yang menyebabkan sesuatu itu terjadi atau berubah. Filsafat sejarah membicarakan hakekat sejarah atau esensi dasar sejarah.

  5.     Filsafat Logika
Filsafat Logika adalah bidang-bidang pokok pengetahuan yang mempelajari dan memikirkan segenap asas, aturan dan tata cara penalaran yang benar
     
  6.      Filsafat Metodologi
Filsafat metodologi membicarakan dan memikirkan hal-hal seperti bersifat observasi, hipotesis, hukum, teori, susunan eksperimen, dan sebagainya.  
      
  7.     Filsafat Ontologi dan kosmologi
Perkataan kosmologi berasal dari perkataan Yunani. Cosmos dan logos, yang masing-masing berarti alam semesta yang teratur, dan penyelidikan tentang atau lebih tepatnya asas-asas rasional dari. Perkataan ontologi berasal dari perkataan Yunani yang berarti yang ada dan logos. Ontologi membicarakan asas-asas rasional dari yang ada, sedangkan kosmologi membicarakan dan memikirkan asas-asas rasional dari yang ada yang teratur. Ontology berusaha untuk menhetahui eseni terdalam dari yang ada, sedangkan kosmologi berusaha untuk mengetahui ketertibannya serta susunannya.
       
  8.     Filsafat agama
Filsafat agama adalah hal-hal pokok yang memikirkan dan mempertanyakan inti terdalam mengenai agama, mengapa harus ada agama, dari mana asal agama, agama paling benar itu agama apa, mengapa harus beragama.
Kajian agama secara etimologi menurut bahasa Sansekerta (Indo Jerman) bahwa akar kata agama ialah gam yang berarti pergi atau berjalan (dalam bahasa Belanda gaan, Inggris go). Istilah pergi atau jalan kemana? Menurut agama Hindu jalan menuju ke Nirvana, menurut Islam: syari’at, thariqah, shirathal mustaqim (jalan lurus), peristilahan Cina: tao; peristilahan Jepang: shinto, menurut Budha jalan delapan; dan menurut Tuhan Nasrani, “Yesus” berkata kepada pengikut-pengikutnya: “ikutlah jalanku”. Jadi, pemaknaan agama-agama: umumnya ditemukannya jalan pada batinnya.
Adapun keselarasan antara filsafat dan agama menurut al-Kindi di dasarkan pada 3 alasan: (1) Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat, (2) Wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian, (3) menuntut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.

9. Filsafat pendidikan
Filsafat pendidikan merupakan ilmu filsafat yang mempelajari hakikat pelaksanaan dan pendidikan. Bahan yang dipelajari meliputi tujuan, latar belakang, cara, hasil, dan hakikat pendidikan. Metode yang dilakukan adalah dengan menganalisa secara kritis struktur dan manfaat pendidikan. Filsafat pendidikan berupaya untuk memikirkan permasalahan pendidikan. Salah satu yang dikritisi secara konkret adalah relasi antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. Salah satu yang sering dibicakan dewasa ini adalah pendidikan yang menyentuk aspek pengalaman. Filsafat pendidikan berusaha menjawab pertanyaan mengenai kebijakan pendidikan, sumber daya manusia, teori kurikulum dan pembelajaran serta aspek-aspek pendidikan yang lain.

10. Filsafat Biologi
Biologi kefilsafatan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai pengertian-pengertian hidup, adaptasi, teleologi, evolusi, dan penurunan sifat-sifat. Biologi kefilsafatan juga membicarakan tentang tempat hidup dalam rangka segala sesuatu, dan arti penting hidup bagi penafsiran kita tentang alam semesta tempat kita hidup.

11. Filsafat Psikhologi
Psikhologi kefilsafatan mengajukan dan mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan pokok tentang gejala-gejala kejiwaan,prilaku manusia.

12. Filsafat Sosiologi
Dalam sosiologi kefilsafatan terkait dengan filsafat sosial dan filsafat politik. Dalam filsafat sosial dan filsafat politik, kita mengemukakan pertanyaan pertanyaan mengenai hakikat masyarakat serta hakikat negara. Kita ingin mengetahui lembaga-lembaga yang terdapat dalam masyarakat dan menyelidiki hubungan antara manusia dan negaranya.

13. Filsafat matematika
Filsafat matematika adalah cabang dari filsafat yang mengkaji anggapan-anggapan filsafat, dasar-dasar, dan dampak-dampak matematika. Tujuan dari filsafat matematika adalah untuk memberikan rekaman sifat dan metodologi matematika dan untuk memahami kedudukan matematika di dalam kehidupan manusia.

Tema-tema yang sering diperbincangkan di antaranya:
·        Apakah sumber pokok bahasan matematika?
·        Apakah status ontologis dari entitas-entitas matematika?
·        Apakah kaitan antara logika dan matematika?
·        Apakah peran hermeneutika di dalam matematika?
·        Apakah tujuan dari penyelidikan matematika?
·        Apakah yang memberi pertautan antara matematika dan pengalaman?
·        Sifat manusia apakah yang berada di sebalik matematika?
·        Apakah yang dimaksud dengan keindahan matematika?
·        Apakah sumber dan sifat kebenaran matematika?
·        Apakah hubungan antara dunia matematika abstrak dan semesta materi?
·        Apakah matematika suatu bahasa yang mutlak dan universal?

 14. Filsafat ekonomi
Filsafat ekonomi adalah hal-hal pokok yang memikirkan dan mengkaji inti terdalam mengenai ekonomi.

15. Filsafat fisika 
Filsafat fisika adalah bidang-bidang pokok yang memikirkan dan mengkaji mengenai inti terdalam dan makna mengenai fisika.

Sabtu, 11 Juni 2016

AREAL FILSAFAT



KERANGKA BESAR FILSAFAT ATAU SISTEMATIK FHILOSOFIS

  •   Filsafat manusia (Antropologi filosofis atau antropologi metafisis)
  •   Filsafat ketuhanan (theodicea)
  •  Filsafat keindahan atau seni (Estetika atau aesthetic)  
  • Filsafat norma/prilaku (Etika/ethica)        
  •  Filsafat pengetahuan (Epsitemologi)

Ø   Filsafat manusia (Antropologi fhilosofis/Antropolgi metafisis) :bidang- bidang pokok atau wilayah yang memikirkan dan mempertanyakan manusia itu sesungguhnya apa, siapa dirinya sebenarnya, apa bedanya dengan binatang , apa beda dengan malaikat, setan, dan jin

Ø    Filsafat ketuhanan (Theodicea)   :bidang-bidang pokok atau wilayah yang memikirkan  dan mempertanyakan tuhan itu apa, apakah alam semesta ini butuh tuhan, apakah tuhan itu selalu dikaitkan dengan agama, apakah selalu berkaitan dengan fenomena sipiritualitas

Ø    Filsafat keindahan atau seni (Aesthetic)  :bidang-bidang pokok atau wilayah yang memikirkan mengenai keindahan, apa yang dimaksud dengan keindahan, bagaimana bentuk keindahan,

Ø   Filsafat norma/prilaku (Ethica)   :bidang-bidang pokok atau wilayah yang mempertanyakan dan memikirkan tentang kenapa suatu diwajibakan, kenapa suatu dilarang dan apa itu larangan, apa itu kewajiban, kenapa kita harus mengikutinya, kenapa pantas kenapa tidak pantas.

Ø   Filsafat pengetahuan ( Efistimologi)  :bidang-bidang pokok atau wilayah yang mempertanyakan dan  memikirkan mengenai  sumber-sumber pengetahuan itu dari mana, darimana kita tahu bahwa pengetahuan itu benar atau tidak benar, konsep obyektif dan konsep subyektif sebenarnya bagaimana.

METODE MEMPELAJARI FILSAFAT




1.  Metode sistematis  : isi filsafat :
-Teori pengetahuan (isme-isme filsafat)
             -Teori hakikat (aliran-aliran filsafat)
             -Teori nilai
2.  Metode Histeris :
- Tokoh dan periode filsafat (sejarah pemikiran)
             - Periode babakan sejarah filsafat
3.  Metode kritis :
       - tingkat intensif
       - telah memiliki pengetahuan filsafat
       - pendekatan sistematis atau histories memahami isi
       - mengajukan kritis
       - menentang dukungan dengan pendapat sendiri atau filosof lain